Thursday, November 14, 2013

Tambah Stamina dengan Nasi Ubi


 
Nasi ubi, nasi yang diberi potongan ubi jalar





    Satu hal yang tak pernah lewat dari perhatian saat bepergian ke tempat baru adalah makanan. Apalagi jika daerah yang dituju benar-benar belum kita kenal sebelumnya, wisata kuliner adalah a must do activity, aktivitas yang harus dilakukan! Begitu juga saat mengunjungi Taipei, Taiwan.
    
    Untungnya, saya datang berkelompok, bersama beberapa rekan wartawan dan perwakilan travel agent yang diundang Garuda Indonesia. Meski kami serombongan berbeda-beda kepercayaan, Jenny Hung, tour guide kami sudah memastikan setiap makanan yang tersaji di restoran yang kami kunjungi, bebas dari daging dan atau minyak babi. Kali pertama makan di restoran di Taipei, saya dan kawan senang-senang saja. 
Menu yang disajikan ternyata tidak terlalu asing di lidah, bahkan sebagian besar di antaranya juga bisa ditemukan di Tanah Air. Udang asam manis, ca jamur brokoli, cumi asam manis, ayam goreng bumbu, bebek tumis jamur dan ikan kukus menjadi menu yang nyaman-nyaman saja di lidah dan perut saya. Racikan bumbu yang membalut masakan-masakan itu pun tidak terlalu tajam di lidah orang Indonesia.
Masakan berbahan daging bebek
Keunikan saya temui saat di salah satu restoran kami disu
 
   Ikan kukus ala Taiwan
guhi nasi hangat dengan potongan ubi jalar berwarna kuning di dalamnya.
   “Kalau orang Taiwan, nasi yang diberi potongan ubi itu untuk kesehatan, mengembalikan stamina. Jadi makannya sekaligus, nasi bareng sama ubinya,” jelas Jenny saat saya menanyakan soal nasi “bertabur” ubi jalar itu. Nasi yang ditemani ubi jalar itu pun terasa agak manis di lidah. 
    Kali kedua makan di restoran, lagi-lagi saya dan rombongan menemui menu sejenis, hanya beda di soal penyajian. Bahkan kali ketiga kami makan di restoran di luar hotel, udang asam manis, ca jamur brokoli, cumi asam manis, ayam goreng bumbu, bebek tumis jamur serta ikan kukus, kembali tersaji di meja. 
     “Ini lagi ini lagi. Eneg banget ya, tiga kali makan di luar menunya sama semua,” ucap rekan wartawan yang duduk di samping saya. Saya dan delapan wartawan lainnya yang kebetulan duduk satu meja pun tak bisa menahan tawa. “Coba di Indonesia, hari pertama wisata kuliner masakan Padang, hari kedua masakah Jawa, hari ketiga masakan Sunda, kurang apa coba Indonesia,” sahut kawan lainnya. Bagi saya yang penyuka masakan pedas dan sambal, wisata kuliner di Taipei jelas agak mengecewakan. Dari tiga restoran yang saya dan rombongan kunjungi tidak ada satupun yang menyajikan sambal sebagai pendamping menu utama.

impulsif

"rasa sesal di dasar hati, diam tak mau pergi...
haruskah aku lari dari kenyataan ini ...
pernah ku mencoba, tuk sembunyi...
namun senyummu tetap mengikuti..."

Lagu pagi ini bikin bertanya-tanya, rasa sesal itu apa...dari mana dia datang? Mungkinkah ia muncul dari ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan...benarkah? Harapan itu apa, kenyataan itu seperti apa? Jika kebaikan dan keburukan adalah penyeimbang dari satu dan lainnya, apakah harapan dan kenyataan juga merupakan penyeimbang dari satu dan lainnya. 
Tak mungkin manusia berharap sesuatu yang buruk untuk dirinya. Hope for the best...right? Dan, kenyataan hampir pasti tidak selalu sesuai dengan harapan. Mungkin, karena sifat manusia yang selalu merasa kurang, atau memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Lalu, saat takaran kenyataan 'dirasakan' tidak setimbang dengan yang diharapkan, muncullah penyesalan. Begitukah? 
Entahlah... Bung Iwan Fals tidak "bicara" lebih banyak lewat syair lagunya, atau memang ia sudah berbicara terlalu banyak dari lagu penyesalan itu...


NB: 
foto hasil googling

Sunday, November 10, 2013

Jajan..yuk jajan..

Satu destinasi wisata yang hampir selalu disarankan oleh tour guide saat mengunjungi Taipei adalah pasar malam.  “Orang Taiwan paling suka belanja. Jadi setelah seharian bekerja, biasanya mereka akan menghabiskan waktu di pasar malam. Makanya Taipei punya banyak pasar malam,” jelas Jenny Hung, tour guide yang mendampingi saya dan rombongan selama di Taipei.

Display buah-buahan ini sangat menarik 
mata pengunjung untuk membeli
Shilin Night Market menjadi destinasi terakhir saya di Taipei. Shilin Night Market yang terletak di Distrik Shilin, merupakan pasar malam terbesar dan paling terkenal di Taipei. Kios-kios permanen berjajar di sepanjang kompleks pasar malam. Tak berbeda dengan pasar malam di Tanah Air, barang dagangan yang ditawarkan pun meriah bahkan ada sebagian yang memakan bahu jalan untuk pejalan kaki.

Berbagai jenis baju yang mengikuti tren fashion terkini, sandal/ sepatu anak dan dewasa, asesoris, jam dinding dan jam tangan, topi, barang elektronik, suvenir khas Taiwan dan banyak barang lainnya ditawarkan dengan harga yang bervariasi.

Untuk melayani pembeli dari kalangan wisatawan asing, para pedagang sudah sigap melengkapi diri dengan kalkulator. Maka tawar menawar harga pun dilakukan dengan memencet-mencet angka di papan kalkulator. Ada strategi khusus yang dipakai beberapa pedagang untuk menarik perhatian calon pembeli, yaitu dengan menempatkan seorang perempuan atau laki-laki bertampang menarik di tengah hiruk pikuknya jalan, lengkap dengan mini microphone. Dan “cuap-cuap” sales menawarkan dagangan plus diskon harga pun saling bersahutan terdengar di Shilin Night Market.

Berburu Jajanan
Dipaparkan Jenny, selain belanja fashion dan asesoris, mereka yang datang ke pasar malam di Taiwan juga biasa berburu makanan. “Tahu bau, atau Stinky Tofu adalah makanan yang paling dicari selain Bubble Tea. Kalau di Indonesia, Stinky Tofu mungkin rasanya seperti tahu gejrot ya,” papar Jenny. Sayangnya, rasa penasaran saya untuk mencicipi Stinky Tofu malam itu tak kesampaian. Sementara diburu waktu, berjubelan dengan pengunjung pasar malam membuat saya dan seorang rekan malah tersesat dan hampir ketinggalan bus yang akan membawa kami kembali ke hotel.
Ada kopi Toraja di deretan kedai 
makanan dan minuman di Shilin
Saya hanya sempat membeli gulali buah seharga 50 dolar Taiwan.
O ya, ada satu makanan khas Taiwan yang ternyata juga tak asing di Tanah Air, yaitu kue nastar. Bedanya dengan nastar kebanyakan di Tanah Air, nastar di Taiwan terasa lebih lembut di lidah dengan isian selai nanas yang manisnya tak terlalu legit. Kue itu bisa dibeli di berbagai pusat oleh-oleh dengan kisaran harga 300 dolar Taiwan persepuluhnya. Salah seorang presiden Taiwan pernah membuat kebijakan untuk menjadikan kue nastar sebagai oleh-oleh resmi tamu negara. Kuenya pun dibentuk khusus, yaitu menyerupai Pulau Taiwan. Ah, baru dua foto di atas yang terlacak, sisanya masih diubak-ubek entah ada di mana ..hehe

lalu..


Engkau adalah semi, saat kau tumbuhkan benih dengan serbuk sari cinta abadi
Putih-putik mahkota malu-malu merangkum indahmu
Lahirkan tunggak, tumbuh bersama matahari

Engkau adalah kemarau, saat angin hangatmu ranggaskan ranting- ranting kering,
gugurkan daun-daun layu, dan pastikan hanya pokok yang kuat bertahan

Engkau adalah penghujan, mendung langitmu teduhkan gundah, dingin rintikmu

Berburu Waktu di Negeri Chiang Kai-Shek

Gerbang Museum Nasional Chiang Kai-Shek
Namanya ngelencer alias jalan-jalan, paling paling asik memang dilakukan dengan santai, tak diburu waktu. Tapi apa daya, kalau ngelencernya bukan untuk kesenangan pribadi semata, melainkan karena tugas “negara” sebagai jurnalis. Itu pula yang saya alami pertengahan tahun lalu, saat ditugaskan kantor tempat saya bekerja dulu, untuk mengikuti liputan pembukaan jalur penerbangan sebuah maskapai penerbangan nasional ke Taiwan. Jadinya, sehari mengelilingi Taipei, Taiwan, berwisata sambil diburu waktu. Berikut ini catatan perjalanan saya seperti pernah termuat di sebuah koran lokal di Solo pertengahan 2012:

Akhir pekan ketiga Mei 2012 lalu, saya mendapat tugas dinas memenuhi undangan pembukaan rute penerbangan Jakarta-Taipei dari maskapai Garuda Indonesia. Saya pun berkesempatan jalan-jalan ke beberapa destinasi wisata di Taipei, Ibu Kota Taiwan. Salah satu destinasi wisata yang saya dan rombongan kunjungi adalah kompleks Chiang Kai-Shek Memorial Hall atau yang juga dikenal sebagai National Taiwan Democracy Memorial Hall. Jaraknya sekitar 20 menit perjalanan menggunakan bus dari tempat menginap kami di Hotel W, Taipei. Terletak di jantung Kota Taipei, kompleks museum ini berdiri di atas tanah total seluas 25 hektare.
Diorama ruang kerja pendiri Taiwan, Chiang Kai-Shek


Kompleks museum ini memiliki bangunan gerbang utama, gedung utama museum (Chiang Kai-Shek Memorial Hall), gedung National Concert Hall dan gedung National Theater Hall. Taman yang dilengkapi dengan danau buatan pun ada di sini. Sayang, waktu saya terlalu sedikit untuk bisa menjelajahi semua titik di kompleks museum ini. Tidak perlu bingung saat masuk ke gedung utama museum. Gambar telapak kaki di lantai museum akan menunjukkan urut-urutan ruangan yang dikunjungi. Berbagai benda peninggalan Chiang, seperti foto-foto kenangan, baju-baju, surat-surat penting, bintang tanda jasa, mobil kuno hingga diorama ruang kerja Chiang, dipamerkan dengan displai besar dan keterangan lengkap. Pengunjung juga bisa menyaksikan film-film pendek seputar kehidupan Presiden pertama China, Chiang Kai-Shek melalui media audio visual portable. Satu hal yang unik dari museum ini yakni kehadiran perempuan-perempuan paruh baya di berbagai sudut museum. Rupanya mereka merupakan sukarelawan yang siap membantu pengunjung yang membutuhkan sesuatu, misalnya menunjukkan arah toilet.

Petugas Jaga

Atraksi paling menarik yang kami jumpai di museum itu saat pergantian petugas jaga patung Chiang Kai-Shek. Perlu diketahui, gedung utama museum juga menyimpan patung Chiang Kai-Shek berukuran sangat besar. Terbuat dari tembaga, patung Chiang dalam posisi duduk ditempatkan di sebuah ruang besar lantai tiga gedung museum, yang menghadap ke lapangan dan gerbang utama kompleks museum. Dua orang anggota Korps Tentara Republik China berseragam putih dan bersenjata lengkap berjaga di depan patung. Prajurit jaga akan diganti setiap satu jam sekali. Prosesi pergantian prajurit jaga inilah yang selalu mengundang kerumunan orang untuk menyaksikan dan mengambil gambar.
Prosesi pergantian petugas jaga

“Wah, prajuritnya ganteng-ganteng, kek bintang film Korea,” celetuk seorang kawan anggota rombongan saya. Memang benar, saya pun tak ketinggalan untuk mengabadikan foto si prajurit ganteng dan berfoto narsis di dekatnya. Sayangnya apa yang dipaparkan Jenny Hung, tour guide kami, bahwa pengunjung boleh foto berdekat-dekat bahkan membantu mengelap keringat sang prajurit jaga tidak terbukti. Ada petugas lain yang berjaga di sekitar prajurit jaga, yang akan “mengusir” pengunjung yang nekat melewati garis pembatas. Museum ini buka setiap hari sepanjang tahun, dengan jam buka pukul 09.00-18.00 waktu setempat. Berkunjung ke museum memang seakan membawa kita memburu waktu, yakni masa lalu yang selalu menyimpan sejarah.

Thursday, June 6, 2013

Engkau Matahariku

mataku silau saat pertama menatapmu, Matahariku
terpana, membuta
hangat menelisap di relung-relung yang gelap
mencair ia yang lama beku
tergugah dia yang lama bisu
indahnya binarmu meronakan pipiku

belum jua sadar dari kagumku
seketika engkau berpaling
tiba-tiba kau beranjak, menjauh
terengah napasku, terkesiap jantungku
meronta pun tak jua mampu 
dayaku tak sanggup tahan lajumu, Matahariku

maka di sinilah aku..
memeluk sisa-sisa kehangatanmu
mendekap binarmu yang meredup di pelupukku

Wednesday, June 5, 2013

Jika Kau Ucap Selamat Tinggal

Ternyata saat itu adalah hari ini
Yang kukira masa masa telah lalu, baru bermula kini
Mendung, hujan, gelap, pengap..membebat
Ini awal mula, jangan kau kata segera sirna
Besok pun masih akan seperti ini
Saat kau putuskan tidak ada esok hari

Baik...
Tak ada yang sanggup mencegah kedatanganmu,
Pun tak ada yang mampu menahan kepergianmu
Bukan cinta, tidak pula rindu, apalagi aku
Bahagiamu bahagiaku, sedihmu piluku
Baik-baiklah engkau di situ
Semoga selintas adaku membawa kebahagiaan untukmu
Meski setitik, meski pedih, meski letih...

Aku

akulah sang pecinta yang terluka
sayapku patah sebelah
hatiku terdedah gundah

akulah sang pecinta
berkelana merindu masa
roman hujan di belantara kelana

akulah sang pecinta
tak lelah mencari asa
cerita tentang bahagia

sayang sayapku sayup
lumpuh layuh sebelah
paruhku kelu bak telan batu

akulah sang pecinta
sayap tertangkup paruh merunduk
menggapai jauh merindu pungguk

Hello June!

Hei…inikah Juni
Aku pangling sekali
Pagi-pagi memang silau sang matahari
Tapi kenapa hujan masih juga mengguyur bumi

Aku ragu ini bulan Juni
Mahatari seperti setengah hati
Biasanya bunga berseri seri
Tapi mendung segera lenyapkan hari

Gelap yang mendekap langit redupkan jiwa
Keceriaan tercerabut bahkan sebelum ia mengendap
Meski ku tak membenci hujan...
Rintik ataupun badai di bulan Juni seperti membuatku mati

lelah

bulir hujan mengalir cair
gemericik kaki menjejak basah
bak peluh yang terlalu deras mengucur
sekujur kujur tak selamat resah

awan mendung tak juga bosan mengeluh
seperti langit, gubug ini juga resah
ranting kering  mengelitik keri
dahan kokoh menohok dalam

hancurkan hancurkan
pokok pokok ini tak jua muda
mengering mengelupas di sana sini
reyot kesana kemari

guyur guyurkan
rumbia ini patah patah
melambai-lambai kian kemari
langit tumpahkanlah
petir mengaumlah
gubug ini inginkan mati

24 Februari 2009

one fine day...

You lend me the hand the other day
Suddenly...
Summer breeze blush on my cheek
The wind fall runs through my hair
The chill of winter freeze my memories
And the beauty of spring gloom in bare
All came in the sudden

You lend me your hand the other day
I'm keeping you inside, I swear
And I owe you my heart to share 

*masa depan terlalu cepat datang
masa lalu terlalu cepat menghilang*

27 April 2009

rindu

aku kangen papa
aku rindu mama
aku rindu dipeluknya
pasti itu mereka lakukan saat aku masih balita ya...

aku kangen papa
aku rindu mama
ingin rasanya tidur dipangkuannya
pasti itu ku lakukan saat masih balita ya ...

aku rindu pulang
aku rindu pulang

aku ingin meringkung di samping papa
aku ingin bergelung di samping mama
seperti malam terakhir aku bersama mereka

27 April 2009

Perempuan dalam putaran

*hei perempuan dengan mood berputar putar*
barusan kurogoh dadamu
tapi sepertinya hatimu sudah tak lagi di situ,
atau mungkin sudah membeku jadi batu
pusing aku mengikuti pusaran mood-mu,
kadang begini kadang begitu,bikin kepala ini jadi ngilu

*hei perempuan dengan mood berputar putar*,
berhentilah sejenak dari alurmu
putaranku tak sanggup menandingimu
pusaranmu tak terbendung arusku
lagi..


note: * meminjam istilah dari kawan mimpikiri
4 Maret 2009

Jatuh

bulat mata itu membola indah
berbinar pendar silaukan hari
mengerling mengerjap

sayup sapuannya menggedor jantung
aku terjaga
burung hitam mengentakkan sayapnya
paruh membusung mengirim bahaya

tapak kaki berasa keri
mengayun membusur berlari
tangan mengalun tangkap dedahan
sayang, rapuh gemeletak tak kuat tahan

gelap jurang aku terjerembab
pengap...

3 Maret 2009

Monday, March 25, 2013


After so many years...akhirnya punya rumah lagi. 
Banyak sih yang mau ditumpahin, tapi entah...let's see how its flows ;)