![]() |
| Gerbang Museum Nasional Chiang Kai-Shek |
Namanya ngelencer alias jalan-jalan, paling paling asik memang dilakukan dengan santai, tak diburu waktu. Tapi apa daya, kalau ngelencernya bukan untuk kesenangan pribadi semata, melainkan karena tugas “negara” sebagai jurnalis. Itu pula yang saya alami pertengahan tahun lalu, saat ditugaskan kantor tempat saya bekerja dulu, untuk mengikuti liputan pembukaan jalur penerbangan sebuah maskapai penerbangan nasional ke Taiwan. Jadinya, sehari mengelilingi Taipei, Taiwan, berwisata sambil diburu waktu. Berikut ini catatan perjalanan saya seperti pernah termuat di sebuah koran lokal di Solo pertengahan 2012:
Akhir pekan ketiga Mei 2012 lalu, saya mendapat tugas dinas memenuhi undangan pembukaan rute penerbangan Jakarta-Taipei dari maskapai Garuda Indonesia. Saya pun berkesempatan jalan-jalan ke beberapa destinasi wisata di Taipei, Ibu Kota Taiwan. Salah satu destinasi wisata yang saya dan rombongan kunjungi adalah kompleks Chiang Kai-Shek Memorial Hall atau yang juga dikenal sebagai National Taiwan Democracy Memorial Hall. Jaraknya sekitar 20 menit perjalanan menggunakan bus dari tempat menginap kami di Hotel W, Taipei. Terletak di jantung Kota Taipei, kompleks museum ini berdiri di atas tanah total seluas 25 hektare.
![]() |
| Diorama ruang kerja pendiri Taiwan, Chiang Kai-Shek |
Kompleks museum ini memiliki bangunan gerbang utama, gedung utama museum (Chiang Kai-Shek Memorial Hall), gedung National Concert Hall dan gedung National Theater Hall. Taman yang dilengkapi dengan danau buatan pun ada di sini. Sayang, waktu saya terlalu sedikit untuk bisa menjelajahi semua titik di kompleks museum ini. Tidak perlu bingung saat masuk ke gedung utama museum. Gambar telapak kaki di lantai museum akan menunjukkan urut-urutan ruangan yang dikunjungi. Berbagai benda peninggalan Chiang, seperti foto-foto kenangan, baju-baju, surat-surat penting, bintang tanda jasa, mobil kuno hingga diorama ruang kerja Chiang, dipamerkan dengan displai besar dan keterangan lengkap. Pengunjung juga bisa menyaksikan film-film pendek seputar kehidupan Presiden pertama China, Chiang Kai-Shek melalui media audio visual portable. Satu hal yang unik dari museum ini yakni kehadiran perempuan-perempuan paruh baya di berbagai sudut museum. Rupanya mereka merupakan sukarelawan yang siap membantu pengunjung yang membutuhkan sesuatu, misalnya menunjukkan arah toilet.
Petugas Jaga
Atraksi paling menarik yang kami jumpai di museum itu saat pergantian petugas jaga patung Chiang Kai-Shek. Perlu diketahui, gedung utama museum juga menyimpan patung Chiang Kai-Shek berukuran sangat besar. Terbuat dari tembaga, patung Chiang dalam posisi duduk ditempatkan di sebuah ruang besar lantai tiga gedung museum, yang menghadap ke lapangan dan gerbang utama kompleks museum. Dua orang anggota Korps Tentara Republik China berseragam putih dan bersenjata lengkap berjaga di depan patung. Prajurit jaga akan diganti setiap satu jam sekali. Prosesi pergantian prajurit jaga inilah yang selalu mengundang kerumunan orang untuk menyaksikan dan mengambil gambar.
![]() |
| Prosesi pergantian petugas jaga |
“Wah, prajuritnya ganteng-ganteng, kek bintang film Korea,” celetuk seorang kawan anggota rombongan saya. Memang benar, saya pun tak ketinggalan untuk mengabadikan foto si prajurit ganteng dan berfoto narsis di dekatnya. Sayangnya apa yang dipaparkan Jenny Hung, tour guide kami, bahwa pengunjung boleh foto berdekat-dekat bahkan membantu mengelap keringat sang prajurit jaga tidak terbukti. Ada petugas lain yang berjaga di sekitar prajurit jaga, yang akan “mengusir” pengunjung yang nekat melewati garis pembatas. Museum ini buka setiap hari sepanjang tahun, dengan jam buka pukul 09.00-18.00 waktu setempat. Berkunjung ke museum memang seakan membawa kita memburu waktu, yakni masa lalu yang selalu menyimpan sejarah.



No comments:
Post a Comment