Sunday, November 10, 2013

Jajan..yuk jajan..

Satu destinasi wisata yang hampir selalu disarankan oleh tour guide saat mengunjungi Taipei adalah pasar malam.  “Orang Taiwan paling suka belanja. Jadi setelah seharian bekerja, biasanya mereka akan menghabiskan waktu di pasar malam. Makanya Taipei punya banyak pasar malam,” jelas Jenny Hung, tour guide yang mendampingi saya dan rombongan selama di Taipei.

Display buah-buahan ini sangat menarik 
mata pengunjung untuk membeli
Shilin Night Market menjadi destinasi terakhir saya di Taipei. Shilin Night Market yang terletak di Distrik Shilin, merupakan pasar malam terbesar dan paling terkenal di Taipei. Kios-kios permanen berjajar di sepanjang kompleks pasar malam. Tak berbeda dengan pasar malam di Tanah Air, barang dagangan yang ditawarkan pun meriah bahkan ada sebagian yang memakan bahu jalan untuk pejalan kaki.

Berbagai jenis baju yang mengikuti tren fashion terkini, sandal/ sepatu anak dan dewasa, asesoris, jam dinding dan jam tangan, topi, barang elektronik, suvenir khas Taiwan dan banyak barang lainnya ditawarkan dengan harga yang bervariasi.

Untuk melayani pembeli dari kalangan wisatawan asing, para pedagang sudah sigap melengkapi diri dengan kalkulator. Maka tawar menawar harga pun dilakukan dengan memencet-mencet angka di papan kalkulator. Ada strategi khusus yang dipakai beberapa pedagang untuk menarik perhatian calon pembeli, yaitu dengan menempatkan seorang perempuan atau laki-laki bertampang menarik di tengah hiruk pikuknya jalan, lengkap dengan mini microphone. Dan “cuap-cuap” sales menawarkan dagangan plus diskon harga pun saling bersahutan terdengar di Shilin Night Market.

Berburu Jajanan
Dipaparkan Jenny, selain belanja fashion dan asesoris, mereka yang datang ke pasar malam di Taiwan juga biasa berburu makanan. “Tahu bau, atau Stinky Tofu adalah makanan yang paling dicari selain Bubble Tea. Kalau di Indonesia, Stinky Tofu mungkin rasanya seperti tahu gejrot ya,” papar Jenny. Sayangnya, rasa penasaran saya untuk mencicipi Stinky Tofu malam itu tak kesampaian. Sementara diburu waktu, berjubelan dengan pengunjung pasar malam membuat saya dan seorang rekan malah tersesat dan hampir ketinggalan bus yang akan membawa kami kembali ke hotel.
Ada kopi Toraja di deretan kedai 
makanan dan minuman di Shilin
Saya hanya sempat membeli gulali buah seharga 50 dolar Taiwan.
O ya, ada satu makanan khas Taiwan yang ternyata juga tak asing di Tanah Air, yaitu kue nastar. Bedanya dengan nastar kebanyakan di Tanah Air, nastar di Taiwan terasa lebih lembut di lidah dengan isian selai nanas yang manisnya tak terlalu legit. Kue itu bisa dibeli di berbagai pusat oleh-oleh dengan kisaran harga 300 dolar Taiwan persepuluhnya. Salah seorang presiden Taiwan pernah membuat kebijakan untuk menjadikan kue nastar sebagai oleh-oleh resmi tamu negara. Kuenya pun dibentuk khusus, yaitu menyerupai Pulau Taiwan. Ah, baru dua foto di atas yang terlacak, sisanya masih diubak-ubek entah ada di mana ..hehe

4 comments:

  1. Baca2 tulisan orang kalau jalan2 ke negeri non muslim sulit untuk mencari makanan halal, kalau di Taiwan gimana mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. soal makanan halal sebenernya ada di tulisan satunya, sayang msh gagal terunggah..karena jalannya rombongan tour guide udah pesen ke restorannya kalo kita maunya yg halal..tapi kalo jajan sendiri di luar ya mending cari aman, yg tidak mengandung daging atau ikan karena meski bukan daging babi langsung misalnya, orang sana biasa masak pake minyaknya...so kalo jajan di luar gitu mending buah atau yng seger-seger gitu

      Delete
  2. ternyata di taiwan ada juga kue nastar ya.... enak dong kalo saya ke taiwan nanti, nggak sukar cari kue nastar...soalnya ini salah satu kue kesukaanku :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya..heran juga pertam atau tu kue pernah jadi kue tradisional untuk oleh-oleh resmi kenegaraan..hihihi

      Delete