![]() |
| Ibu-ibu BKR Solo dalam salah satu kesempatan latihan bareng (dok.pribadi) |
Awas centong melayang!" Demikian “salam mesra”
moderator milis Natural Cooking Club (NCC) sehari-hari dalam memperingatkan
hampir puluhan ribu anggotanya agar memperhatikan sopan santun beremail-ria. Berangkat
dari milis yang selalu ramai, pelaku kuliner berbasis komunitas yang didirikan
oleh pasangan suami istri Fatmah Bahalwan dan Wisnu Ali Martono pada 15 Januari
2005 ini lantas memperluas wilayah cakupannya dengan membuat grup di media
sosial (medsos) Facebook.
Hingga akhir September 2014, anggota grup tertutup NCC di
Facebook telah mencapai hampir 59.000 orang! Bisa bayangkan keriuhan yang bakal
terjadi jika mereka menggelar latihan memasak dalam sekali waktu. Ya, salah
satu aktivitas utama dari NCC adalah kursus kuliner tiap akhir pekan, dengan
tema yang berbeda-beda. Selain itu NCC juga aktif menggelar berbagai kegiatan secara
berkala seperti Tour d’Toko, Tour d’Pasar,
demo member, cooking & baking party, kursus food photography, dan masih banyak kegiatan lainnya.
Nah, dalam kesehariannya, NCC merupakan kumpulan jaringan bakul
kue rumahan – istilah NCC untuk pengusaha kue rumahan – yang telah mencetak
pendapatan dari dapur rumah mereka sendiri. Ini pun ada komunitasnya di
Facebook, yakni BKR, alias Bakul Kue Rumahan. Sejak didirikan pada Desember 2013,
grup tertutup BKR di Facebook ini telah beranggotakan 58.500 orang. Motto yang
diusung BKR adalah “wadah untuk berbagi ilmu dan belajar bersama”. Tak hanya mereka yang sudah piawai di dunia
kuliner, grup ini pun terbuka bagi para pemula yang baru coba-coba merasakan
manisnya bisnis kue rumahan.
Mengandalkan Smartphone
Tak hanya via online,
BKR tentu saja lebih “sibuk” secara offline.
Melalui grup bbm yang dimoderatori oleh seorang penanggung jawab di berbagai
kota di Tanah Air, para anggota BKR aktif berkomunikasi untuk menunjang berbagai
aktivitas yang tujuannya selain untuk berbagi ilmu dan belajar bersama, tentu
saja juga untuk meningkatkan kapasitas produksi para bakul kue rumahan yang
tergabung di dalamnya.
BKR Cabang Solo, Jawa Tengah misalnya, melalui grup bbm (blackberry messenger) yang dimoderatori
oleh Karina Ika Sari, para anggota akan
berdiskusi tentang tema-tema kuliner apa yang bisa dijajal dalam latihan bareng
(Latbar) yang diadakan sebulan sekali. Tema-tema yang diangkat biasanya
diupayakan yang marketable, alias mudah
diterima oleh pasar. Tak hanya itu, para anggota grup juga sering bertukar
informasi tentang berbagai hal seputar dunia masak memasak, misalnya seperti; perbandingan
harga bahan kue/roti, trik-trik mengeksekusi resep, info demo kuliner dari
produsen menteg/terigu, “saling melempar order” dan lain-lain.
Kecangggihan teknologi komunikasi dan aplikasi pendukungnya memang
terbukti sangat membantu kelancaran dalam berwirausaha. Dikatakan Uciex,
anggota BKR Solo yang memiliki spesialisasi memproduksi permen coklat karakter,
media sosial membantu dirinya untuk melakukan promosi dan membantu meningkatkan
penjualan. Bergabung dengan NCC sejak 2007, diakui Uciex mendapatkan banyak
ilmu baru. “Meski kalau NCC lebih banyak interaksi via online, tapi banyak manfaat yang saya dapat. Di antaranya jadi tahu
bagaimana memodifikasi resep-resep masakan, kue atau roti.” Setahun belakangan
Uciex juga aktif di grup BKR Cabang Solo.
“Adanya grup BKR yang juga aktif via bbm menjadi wadah
saling bantu promosi. Kadang ada juga anggota .grup yang jadi reseller produk saya. Sangat membantu
meningkatkan penjualan pokoknya,” tandas Uciex.
Hal senada dikatakan Melly, anggota BKR Cabang Solo lainnya
yang berdomisili di Palur, Karanganyar. “Banyak kenalan dan konsumen saya yang
berasal dari luar kota, jadinya promosi dengan memajang gambar produk di-display picture bbm sangat membantu
penjualan. Selain itu, saya mengandalkan bbm dan WA (whatsapp) untuk berkomunikasi dan bertransaksi dengan mereka.
Jadinya memang piranti teknologi komunikasi itu sangat membantu ya.”
Meski demikian, tak selamanya bisnis memanfaatkan teknologi
komuniksai dan aplikasi pendukungnya berjalan lancar tanpa hambatan. “Paling terganggu
kalau sinyal lagi lelet, bisa bikin emosi tu,” lanjut Melly. Beda lagi dengan
Uciex, yang mengatakan, “Kalau menurut saya sih, harga paketan (pulsa) untuk smartphone ya yang masing tergolong
mahal..hahaha.”

No comments:
Post a Comment