Tuesday, September 30, 2014

Naik Omzet Iya, Bikin Bete Karena Lelet Iya


Ibu-ibu BKR Solo dalam salah satu kesempatan latihan bareng (dok.pribadi)

Awas centong melayang!" Demikian “salam mesra” moderator milis Natural Cooking Club (NCC) sehari-hari dalam memperingatkan hampir puluhan ribu anggotanya agar memperhatikan sopan santun beremail-ria. Berangkat dari milis yang selalu ramai, pelaku kuliner berbasis komunitas yang didirikan oleh pasangan suami istri Fatmah Bahalwan dan Wisnu Ali Martono pada 15 Januari 2005 ini lantas memperluas wilayah cakupannya dengan membuat grup di media sosial (medsos) Facebook. 

Hingga akhir September 2014, anggota grup tertutup NCC di Facebook telah mencapai hampir 59.000 orang! Bisa bayangkan keriuhan yang bakal terjadi jika mereka menggelar latihan memasak dalam sekali waktu. Ya, salah satu aktivitas utama dari NCC adalah kursus kuliner tiap akhir pekan, dengan tema yang berbeda-beda. Selain itu NCC juga aktif menggelar berbagai kegiatan secara berkala seperti Tour d’Toko, Tour d’Pasar, demo member, cooking & baking party, kursus food photography, dan masih banyak kegiatan lainnya.

Nah, dalam kesehariannya, NCC merupakan kumpulan jaringan bakul kue rumahan – istilah NCC untuk pengusaha kue rumahan – yang telah mencetak pendapatan dari dapur rumah mereka sendiri. Ini pun ada komunitasnya di Facebook, yakni BKR, alias Bakul Kue Rumahan. Sejak didirikan pada Desember 2013, grup tertutup BKR di Facebook ini telah beranggotakan 58.500 orang. Motto yang diusung BKR adalah “wadah untuk berbagi ilmu dan belajar bersama”.  Tak hanya mereka yang sudah piawai di dunia kuliner, grup ini pun terbuka bagi para pemula yang baru coba-coba merasakan manisnya bisnis kue rumahan.

Mengandalkan Smartphone
Tak hanya via online, BKR tentu saja lebih “sibuk” secara offline. Melalui grup bbm yang dimoderatori oleh seorang penanggung jawab di berbagai kota di Tanah Air, para anggota BKR aktif berkomunikasi untuk menunjang berbagai aktivitas yang tujuannya selain untuk berbagi ilmu dan belajar bersama, tentu saja juga untuk meningkatkan kapasitas produksi para bakul kue rumahan yang tergabung di dalamnya. 

BKR Cabang Solo, Jawa Tengah misalnya, melalui grup bbm (blackberry messenger) yang dimoderatori oleh Karina Ika Sari,  para anggota akan berdiskusi tentang tema-tema kuliner apa yang bisa dijajal dalam latihan bareng (Latbar) yang diadakan sebulan sekali. Tema-tema yang diangkat biasanya diupayakan yang marketable, alias mudah diterima oleh pasar. Tak hanya itu, para anggota grup juga sering bertukar informasi tentang berbagai hal seputar dunia masak memasak, misalnya seperti; perbandingan harga bahan kue/roti, trik-trik mengeksekusi resep, info demo kuliner dari produsen menteg/terigu, “saling melempar order” dan lain-lain. 

Kecangggihan teknologi komunikasi dan aplikasi pendukungnya memang terbukti sangat membantu kelancaran dalam berwirausaha. Dikatakan Uciex, anggota BKR Solo yang memiliki spesialisasi memproduksi permen coklat karakter, media sosial membantu dirinya untuk melakukan promosi dan membantu meningkatkan penjualan. Bergabung dengan NCC sejak 2007, diakui Uciex mendapatkan banyak ilmu baru. “Meski kalau NCC lebih banyak interaksi via online, tapi banyak manfaat yang saya dapat. Di antaranya jadi tahu bagaimana memodifikasi resep-resep masakan, kue atau roti.” Setahun belakangan Uciex juga aktif di grup BKR Cabang Solo.
“Adanya grup BKR yang juga aktif via bbm menjadi wadah saling bantu promosi. Kadang ada juga anggota .grup yang jadi reseller produk saya. Sangat membantu meningkatkan penjualan pokoknya,” tandas Uciex.

Hal senada dikatakan Melly, anggota BKR Cabang Solo lainnya yang berdomisili di Palur, Karanganyar. “Banyak kenalan dan konsumen saya yang berasal dari luar kota, jadinya promosi dengan memajang gambar produk di-display picture bbm sangat membantu penjualan. Selain itu, saya mengandalkan bbm dan WA (whatsapp) untuk berkomunikasi dan bertransaksi dengan mereka. Jadinya memang piranti teknologi komunikasi itu sangat membantu ya.”
Meski demikian, tak selamanya bisnis memanfaatkan teknologi komuniksai dan aplikasi pendukungnya berjalan lancar tanpa hambatan. “Paling terganggu kalau sinyal lagi lelet, bisa bikin emosi tu,” lanjut Melly. Beda lagi dengan Uciex, yang mengatakan, “Kalau menurut saya sih, harga paketan (pulsa) untuk smartphone ya yang masing tergolong mahal..hahaha.”

No comments:

Post a Comment